10 Mitos Keuangan (Bagian Kedua)

Keempat, hemat pangkal kaya, kaya itu asetnya banyak.

Bapak/Ibu forum komunitas FSQ yang saya hormati, masih ingat tidak pada waktu kita menduduki sekolah dasar (SD) dulu, guru kita selalu mengajarkan kepada kita pepatah hemat pangkal kaya? wah ini betul tapi belum tuntas. Hemat dan punya tabungan saja belum cukup bila akhirnya hasil tabungan selalu menjadi barang konsumsi. Hemat pangkal kaya akan menjadi benar-benar kaya jika hasil tabungan yang dikumpulkan dibelikan barang modal/investasi. Jika tidak, maka Anda hanya terlihat kaya alias rabun kaya. Beli rumah “gedong”, mobil keren, tampang parlente tapi banyak utang. Capek dech ! Kebanyakan orang melihat kaya itu hanya dari aset yang melekat pada diri seseorang atau perilaku pura-pura kaya seseorang bukan dari total aset bersih yang dimiliki seseorang. Apa itu aset bersih? aset bersih adalah jumlah total aset dikurangi jumlah total kewajiban jika hasilnya positif maka Anda bisa mewariskan harta ke anak Anda tetapi bila negatif maka tentu saja Anda akan mewariskan hutang. Aset bersih tinggi dapat diraih jika Aset yang dikumpulkan lebih banyak berbentuk barang modal dari pada berbentuk barang konsumsi. Kenapa? karena hanya barang modal yang dapat menghasilkan pemasukan investasi berkelanjutan selain itu pada barang-barang modal tertentu nilainya akan naik tiap tahunnya seperti emas,tanah dll. Begitupun sebaliknya barang konsumsi nilainya akan turun dan tidak menghasilkan pemasukan investasi kepada Anda malahan bisa menjadi beban bagi Anda.
Kelima, hidup terasa indah jika punya rumah sendiri

Setiap orang di dunia ini pasti menginginkan punya rumah sendiri. Betul tidak? Masak mau tinggal di rumah mertua indah terus? “Tengsin” lah yau🙂. Oleh karena itu, tidak heran bila kebanyakan orang jika ada uang lebih maka prioritas utamanya adalah membeli rumah. Masalah jarak/dekat dengan tempat kantor terkadang tidak masalah asalkan punya
rumah. Untuk pasangan muda dimana tabungannya belum cukup, mereka lebih banyak memilih rumah yang jauh asalkan duitnya cukup dari pada kontrak rumah dekat dengan tempat kerja. Kenapa? karena salah mempersepsikan makna rumahku surgaku dan rumahku istanaku sehingga kebanyakan orang rela bangun lebih pagi serta pulang lebih malam bahkan berlama-lama di jalan bertahun-tahun tetapi tetep hepi🙂.

Contoh soal :

Jika Anda mempunyai tabungan Rp.60 juta dan mempunyai gaji 5 juta/bulan.  Pertanyaan pertama :
Apakah Anda akan memilih membeli rumah dengan harga Rp.200 juta dengan 60 juta sebagai uang muka ditambah angsuran Rp.2,5 juta/bulan* (Asumsi bunga KPR 20%) selama 15 tahun atau memilih kontrak rumah Rp.4-6 juta/tahun (Asumsi 2-3% dari harga rumah) lalu sisa tabungan dan angsuran tiap bulan untuk investasi/wirausaha ? *Kalkulator KPR (www.btn.co. id)

Pertanyaan kedua :
Lebih cepat mana? pilihan pertama atau kedua untuk mendapatkan hak milik rumah seutuhnya?

Pilihan pertama sudah jelas, 15 tahun lagi Anda akan mendapatkan rumah tersebut. Bagaimana dengan pilihan kedua? apakah bisa lebih cepat?

Saya kasih contoh ilustrasi :
Modal Rp.54 juta, Anda membuat 6 warung Soto Ayam @Rp. 9 juta. Harga per mangkok Rp.5 ribu (misal : untung bersih 20%).Sehari Anda hanya menjual 20 mangkok/warung.

Hasil bersih setahun = 20 mangkok X 6 warung x (20% X Rp.5000) X 365 hari = Rp. 43,8 juta

Tidak sampai 5 tahun bukan? Angsuran Rp.2,5 juta/bulan juga bisa Anda alokasikan untuk investasi yang lain.

Anda pilih yang mana?

Jawabannya relatif😉
Jika Anda orang pengambil resiko dan yakin akan potensi Anda maka pilihan kedua adalah pilihan terbaik tetapi sebaliknya jika Anda ingin memiliki zona nyaman silakan memilih pilihan yang pertama.

Baca juga artikel Jakarta Coret (http://snfconsultin g.com/artikel09. html)

Keenam, uang tidak pernah cukup, maka harus dikerjar terus tanpa henti

Mitos ini salah kaprah, karena pada kenyataannya uang selalu cukup sepanjang kita tahu bagaimana memanfaatkan dan mengelolanya. Untuk mengelola uang hingga bisa bertumbuh dan menjadi cukup, selayaknya setiap orang memiliki perencanaan bagaimana mencari dan menggunakan uang.Salah satu cara yang paling sederhana adalah menentukan lebih dulu berapa uang yang Anda perlukan untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Memang, tingkat kebutuhan setiap orang beda, namun yang penting Anda harus menentukan sesuai dengan tingkat
kehidupan yang Anda inginkan. Setelah itu, Anda tentu akan mencari penghasilan. Di sini yang perlu
Anda pastikan bukan mencari penghasilan sebesar-besarnya, melainkan bagaimana Anda memiliki kemampuan menghasilkan uang secara langgeng dan mampu memenuhi kebutuhan hidup Anda.Jadi, bukan bagaimana mencari
uang sebanyak-banyaknya, melainkan mengondisikan keadaan sehingga Anda memiliki uang yang cukup secara langgeng. Konkretnya, buat apa Anda memiliki uang dalam jumlah besar, kalau beberapa saat kemudian uang
tersebut habis. Jauh lebih baik jika Anda memiliki uang cukup, namun terus berkelanjutan. (Kompas edisi Minggu, 6 Februari 2005. Ditulis oleh: Elvyn G Masassya)

Bapak/Ibu kenal Myke Tyson? si “leher beton” tapi bukan otot kawat tulang besi lo..(itu mah Gatot Kaca). Bapak Tyson ini dulu ketika berjaya memiliki kekayaan hanya dari bertinju saja sebesar 300 juta dollar Amerika. Dia mendapat gaji Rp. 50 Milyar sekali bertanding, hebat kan! Itu belum dari hasil iklan dan kerja sampingannya, pasti
banyak banget ! tetapi kenapa bisa jatuh miskin ya? kemampuan mengelola keuangan adalah jawabannya. Bagaimana dengan Anda?

Published in: on 28 Februari 2009 at 14:33  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://otakusaha.wordpress.com/2009/02/28/10-mitos-keuangan-bagian-kedua/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. saya suka artikel” yang anda tulis .. sangat menginspirasi .. terima kasihh😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: